Sabtu, 02 November 2013

Label Sosial



Ia sudah lama berhenti peduli pada label sosial yang tak signifikan.
Dulu, dulu sekali, ia pernah jadi budak komentar. Kebahagiaan hidup seolah ditakar dari pujian-pujian sekitar.
Ia pernah satu tahun mengecap kuliah permesinan. Kala itu, ia menjatuhkan pilihan karena kata mesin membuatnya tiga kali lebih gagah saat bincang-bincang di acara “reuni” alumnus baru lulus.
Nyatanya kegagahan sesaat itu tak sebanding dengan gempuran materi dan praktikum yang semakin lama semakin beranak pinak. Ketika nilainya di mesin tak berhasil ia selamatkan, ia bergegas menyelamatkan diri ke jurusan akuntansi.
Inipun, inipun, erat hubungannya dengan binar kagum di mata sanak saudara. Ia hanya perlu membual mengenai rencana masa depan untuk bekerja di salah satu Bank Swasta, niscaya mereka semua akan (mendadak) lupa pernah menggunjing tentangnya karena kegagalan mesin waktu itu.
Namun sampai mana gengsi bisa memaksa seseorang bertahan?
Ia tertatih di akuntansi. Semangat belajarnya jatuh bangun, prestasinya jatuh tidak bangun bangun, lama-kelamaan untuk pergi kelas pun ia malas bangun.
***
Di masa-masa suram itu ia bertemu dengan seorang musisi gambus merangkap pengrajin sekaligus eksportir gambus. Pak Amat namanya. Mereka berkenalan di geladak kapal; saat ia dalam pengembaraan ke tempat baru (berlibur/melarikan diri di tengah semester yang sibuk) dan Pak Amat dalam perjalanan pulang kampung.
Berawal dari pertanyaan basa-basi “kemana dan dari mana”, ia akhirnya terduduk jongkok selama berjam-jam di atas bangku plastik kecil; mendengarkan orangtua itu bercerita panjang lebar tentang hidup dan bisnisnya.
“Adek hebat dek, bisa tau gambus itu apa. Banyak yang malah nyangka saya jualan gabus, gabus pengganjal tivi baru itu! Hah, hah, hah, hah.”
Ia kadang ikut tergelak, tertular tawa Pak Amat yang khas; terputus-putus dan keras luarbiasa.
Pak Amat mengenal gambus sedari kecil, karena almarhum Abahnya juga seorang pemain gambus. Beliau pernah bekerja jadi tukang ketik di kantor desa, tapi tidak betah karena katanya terlalu banyak politik kantor. Pak Amat punya alasan sendiri mengapa ia akhirnya memilih meneruskan karir pergambusan.
“Ibaratnya ada lagu jaman dulu Terlanjung Sayang, saya sama gambus ni Terlanjur Cinta dek. Lucu memang, hah, hah, hah, hah.”
Di tengah cerita, Pak Amat pamit turun ke lambung kapal. Beliau kembali membawa dua cup Pop Mie.
“Nah dek,” satu cup Pop Mie panas disorongkan ke arahnya.
“Wah, apa ini, Pak? Terimakasih banyak, Pak,” ia menyambut cup Pop Mie dari Pak Amat dengan terkaget-kaget. “Iya, sambil makan ceritanya biar enak, hah, hah, hah.”
Pak Amat lantas menyambung cerita dengan semangat menggebu-gebu.
“Yang saya kesal dek, di kampung saya, udah lah ndak ada lagi yang dengar musik gambus, yang mau beli gambus buat supenir pun nawar harganya sadis minta ampun! Bikin gambus bukan mudah, belum nyamak kulitnya, belum ngukir kayunya. Akhirnya tau dek, saya jual kemana? Ke orang bule! Hah, hah, hah, hah.”
Anak Pak Amat, Rahmat, yang berkuliah di jurusan Bahasa Inggris, membantu ayahnya mempromosikan kesenian gambus ke bule-bule yang diundang sebagai pengajar tamu di kampusnya. Sejak itu ia mulai dibanjiri pesanan dan undangan tampil. Pak Amat dengan bangga mengeluarkan paspornya dari dalam tas pinggang; memperlihatkan rupa-rupa cap dari negara Malaysia, Brunei, Singapura, Inggris, Belanda, Perancis, Korea, dan Hongkong.
“Cuman satu Negara yang belum ni dek. Saudi Arabia, heh, heh, heh, saya sama istri sedang nabung haji, doakan ya dek semoga lancar rizki kami untuk niat baik, Aamiin.”
Hatinya celos mendengar penutup kisah Pak Amat. Rupanya ia terlalu sibuk dengar pendapat kanan kiri hingga lupa menggali kata hatinya sendiri, dan lupa pula tujuan hidup sebenarnya.
***
Sepulang dari pengembaraan yang mempertemukannya dengan Pak Amat —seorang idola baru—, ia tergerak mencari tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Ia inginkan. Bukan ia ingin pamerkan.
***
“Apa kerjamu sekarang?” tanya teman lamanya.
“Aku maestro. Maestro sushi,” ia menjawab dibarengi tawa renyah.
Setelah mengumpulkan modal dan membekali diri dengan cari ilmu sana-sini, ia memulai usaha restoran Sushi pertama di kotanya. Tantangan awal yang harus ia hadapi adalah ketidaktahuan masyarakat kota mengenai makanan yang di mata mereka tampak asing, mentah, serta tak mengenyangkan.
Ia hampir menyerah karena jualan yang sepi, tapi ia ingat Pak Amat. Pak Amat perlu tiga puluh tahun berjuang sebelum mapan. Ia tidak boleh kalah semata-mata karena tiga bulan belum balik modal.
Saat sushi–nya mulai dilirik kaum muda dan mulai punya pelanggan tetap, ia dihadapkan pada persaingan yang tiba-tiba brutal. Sepuluh outlet sushi baru bermunculan bak jamur di musim hujan, beberapa meminjam konsep restorannya secara keseluruhan; cat dinding, jenis kursi, bahkan menu makanan.
Ia hampir patah arang. Namun diingatnya lagi Pak Amat. Orangtua itu tanpa sadar keluar dari permasalahan keuangan yang beliau hadapi dengan jalan inovasi; yaitu meminta Rahmat mengenalkan gambus pada market yang benar-benar baru: Guru Bulenya.
Maka ia putar otak menghadirkan inovasi agar unggul dari pesaing baru yang ikut-ikutan tren. Disamping racikan-racikan sushi yang diadaptasi langsung dari Jepang, ia buat percobaan yang dinamai Sushi Nusantara. Benar saja. Percobaan itu menambah omzetnya, juga membuka dan memperluas demografi pelanggannya.
Setelah usahanya berkembang dan stabil, ia sempat terusik oleh pertanyaan: “Ayah, kenapa ayah kerjanya nggak pakai dasi?” dari Aira, buah hatinya yang akan genap lima tahun Januari nanti. Berhari-hari ia larut merenungi pertanyaan itu. Namun lagi-lagi, sosok Pak Amat muncul di ingatan.
Pekerjaan dan usahanya kini adalah yang ia mau. Yang ia cinta. Tak sama dengan kisah mesin, kisah calon pekerja bank, kisah-kisah pencitraan tempo dulu. Mengapa harus risau dengan label sosial yang tak signifikan?
Namun demi Aira, ia memulai kebiasaan baru pergi kerja dengan setelan lengkap serta dasi, layaknya manajer mana-mana tempat. Aira melompat-lompat senang.
“Ayah ganteng,” pujinya.
***
“Apa kerjamu sekarang?” tanya teman lamanya.
“Aku maestro. Maestro sushi,” ia menjawab dibarengi tawa renyah.
Sang teman lama kembali bertanya sembari mereguk minuman manis di tangan. “Memangnya apa yang dilakukan maestro Sushi?”
“Tentu saja membuat Sushi. Meracik Sushi,” tawanya kali ini lebih berat. Ia sadar betul penjelasan semacam itu sama saja dengan tidak memberi penjelasan. Teman lamanya mengangkat bahu. “Maksudmu, kau koki restoran?”
Lagi-lagi ia tertawa. “Kalau kau menganggapnya begitu ya sudah. Bagaimana denganmu? Kemana saja kau?” Ia mengalihkan pembicaraan.
Sudah tekadnya, tidak mau peduli pada label sosial yang tak signifikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar